Desa Sade Lombok yang Unik Penuh Sejarah

Desa Ende Lombok

Yuk bantu Share keindahan pariwisata Indonesia

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on whatsapp

Jika Anda berkunjung ke Lombok menggunaan pesawat, jangan lewatkan untuk bertandang ke Wisata Desa Sade. Letaknya tak jauh dari Bandara Internasional Lombok, sekitar 30 menitan saja Anda sudah bisa mencapai tempat wisata yang unik ini. Mengapa unik? Sebab, Desa Sade adalah salah satu desa adat di Lombok yang masih berdiri dan menjalankan tradisi di tengah gempuran modernisme di sekitarnya.

Oleh karena keunikannya, desa yang masih menyimpan adat istiadat dan budaya suku asli Lombok ini sering dikunjungi oleh wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Para wisatawan yang datang banyak kagum terhadap desa yang masih mewarisi dan menjalankan tradisi leluhurnya, padahal letaknya berada persis di pinggir jalan yang sering dilalui banyak orang jika akan menuju pusat Kota Mataram.

Desa Sade hanya memiliki sekitar 150-an Kepala Keluarga dan kesemuanya masih mempertahankan kebiasaan dan budaya leluhur suku asli Sasak. Lantas, apa saja keunikannya? Bagaimana sejarahnya? Simak ulasan singkatnya berikut ini.

Keunikan di Desa Sade Lombok yang Harus Anda Ketahui

Ada beberapa keunikan Desa Sade Lombok yang penting untuk Anda ketahui sebagai pengetahuan penting tentang kebudayaan yang ada di Lombok, yaitu:

  • Rumah Tradisional Lombok

Demi menjaga tradisi leluhurnya, masyarakat Suku Sasak di Desa Sade masih mempertahankan tradisi pembuatan rumah dengan cara alami. Materialnya pun dipilih material yang alami, seperti dindingnya yang terbuat dari anyaman bambu, lantai yang beralaskan tanah liat, hingga atapnya yang terbuat dari ilalang. Mereka menyebut rumah ini dengan sebutan Bale Tani.

Meski Bale Tani dibuat dengan sangat sederhana, namun bangunannya termasuk bangunan tahan terhadap guncangan. Sejauh ini, belum ada rumah di Desa Sade yang rusak karena bencana gempa. Bentuk bangunan Bale Tani selalu dibuat dengan pintu utama yang lebih rendah agar setiap tamu yang datang menghormati para pemilik rumah.

Selain Bale Tani yang digunakan sebagai tempat tinggal masyarakat Suku Sasak Sade, ada beberapa tipe rumah lainnya di Desa Sade, yaitu Bale Bonter yang berfungsi sebagai tempat rumah para pejabat desa dan tempat pertemuan atau sidang. Lainnya, ada Bale Kodong yang berfungsi sebagai tempat tinggal bagi orang-orang yang sudah terlampau tua atau bagi mereka yang baru menikah dan belum memiliki tempat tinggal sendiri.

Hal yang paling menarik dari Desa Sade adalah cara masyarakatnya merawat rumah sederhana mereka ini. Bukan hanya rumahnya saja yang tradisional, cara mereka merawat rumahnya hingga kini pun masih menggunakan cara-cara tradisional, yaitu dengan mengepel lantainya menggunakan kotoran kerbau dan sekam padi.

Meski begitu, kotoran kerbau yang digunakan tidak membuat rumahnya menjadi bau. Pengepelan juga hanya dilakukan dua kali dalam seminggu. Tujuannya agar lantai bersih dari debu-debu yang melekat, tanah liat lebih menguat, dan fungsi lainnya juga untuk mencegah serangga masuk ke rumah, terutama nyamuk. Untuk atapnya diganti sekitar 5 sampai 15 tahun sekali, tergantung kerapatannya. Semakin rapat, maka atap ilalang akan semakin awet.

  • Kehidupan Suku Sasak

Kehidupan Suku Sasak tergambar dari penampakan rumahnya yang begitu sederhana. Begitu pula lah Suku Sasak menjalani kehidupannya, sederhana dan penuh makna. Masalah pakaian pun menjadi salah satu hal yang sakral dalam kehidupan budaya Suku Sasak. Oleh karenanya, hingga kini pakaian adat masih menjadi nilai utama yang selalu digunakan oleh masyarakat Desa Sade. Ada yang masih menggunakannya dalam keseharian, ada pula yang hanya menggunakannya pada saat acara-acara ritual budaya.

Untuk pakaian adat perempuan, dikenal dengan sebutan pakaian Lambung. Pakaian ini biasanya digunakan pada saat penyambutan tamu penting atau saat masyarakat Sasak Sade akan melaksanakan upacara adat Mendakin atau Nyongkol. Bentuknya, kain model kerah berbentuk V yang diberi hiasan.

Kelengkapan pakaian ini, terdiri dari Pangkak atau mahkota, Tangkong atau baju beludru, Tongkak atau sabuk yang dililit di pinggang, Lempot atau kain tenun panjang yang disampirkan di pundak kanan kiri, Kereng yang merupakan kain tenun Lombok yang digunakan sebagai bawahan, dan aksesoris pelengkap.

Untuk pakaian adat laki-laki, dikenal dengan sebutan Pegon. Kelengkapan pakaian Pegon, di antaranya ada Cappuq atau Sapuk atau mahkota/penutup kepala, Pegon atau baju yang mirip seperti baju Jawa, Leang atau Dodok atau kain songket untuk menyelipkan keris, dan Kain dalam dengan Wiron atau jenis kain yang digunakan sebagai penutup tubuh bagian bawah.

  • Pengrajin Kain Tenun Khas Lombok

Saat berkunjung ke Desa Sade, Anda akan melihat banyak sekali pengrajin kain tenun khas Lombok. Bahkan, hampir di setiap rumah Anda akan menemukan kain pintal tradisional, kapas, dan benang untuk menenun. Hal ini karena perempuan di Desa Sade diwajibkan untuk mahir menenun sejak usianya 9 tahun. Perempuan Desa Sade yang belum mahir menenun tidak bisa dinikahkan dengan laki-laki manapun, sampai ia mahir menenun.

Alhasil, menenun kini menjadi salah satu mata pencaharian yang umum bagi Desa Sade. Para laki-laki Desa Sade akan membuat cinderamata jika musim panas. Namun, saat musim hujan, mereka akan kembali ke sawah. Hal ini karena saluran irigasi di Desa Sade belum ada, maka mereka bertani dengan mengandalkan air hujan.

Sejarah yang Ada di Desa Sade Lombok

Masyarkat Desa Sade masih mempertahankan tradisinya hingga kini. Ada satu tradisi unik yang menjadi ciri khas Desa Sade, yaitu kawin lari atau kawin culik. Sejoli di Desa Sade yang ingin menikah, harus menikah dengan sesama sukunya. Uniknya, si pria akan menculik si gadis di rumahnya saat menjelang pernikahan dan tidak boleh diketahui oleh orang tua si gadis.

Setelah sang pria mengungkapkan isi hatinya pada keluarga si gadis dan keluarga menyetujuinya barulah diadakan pernikahan dengan membawa si gadis kembali ke rumahnya. Adat ini disebut ‘nyongkolan’. Setelah menikah, mereka akan tinggal di Bale Kodong untuk tempat tinggalnya sementara.

Selain tradisi dalam pernikahan, ada pula atraksi-atraksi yang kerap digelar di Desa Sade, di antaranya ada Tati Paresean dan Tari Gendang Beleq. Tari Paresean sebetulnya adalah pertarungan antara dua lelaki dengan senjata tongkat rotan dan perisai kulit kerbau. Tujuannya adalah untuk melatih ketangkasan.

Dulu, petarungan ini digunakan untuk mengusir penjajah. Sedangkan, tari Gendang Beleq adalah merupakan tari perang, meski tidak ada gerakan yang menunjukkan perkelahian. Dulu, tarian ini berfungsi untuk mengantar maju para pahlawan ke medan perang dan menyambut kembalinya para pahlawan dari medan perang.

Nah, sudah tahu kan keunikan dan sejarah yang ada di Desa Sade. Selain bisa menikmati wisata budayanya, Anda juga bisa membeli olhe-oleh kain tenun khas Lombok. Bahkan, Anda bisa memanfaatkan kesempatan wisata ke Desa Sade untuk belajar menenun kain khas Lombok. Tentu, ini semua akan menjadi pengalaman paling menyenangkan dan sukar terlupakan.

Share agar temanmu tahu keindahan wisata ini

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on pinterest
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
Share on print

Wisata yang lagi HITS! Coba Yuk :)

Hubungi kami dan dapatkan penawaran spesial

Artikel Menarik Lainnya :)